Pendakian Gunung Raung - 5

Pondok Tonyok - Pondok Demit
Pos Pondok Tonyok atau Pondok  Mega adalah sebuah pos yang memiliki area lebih luas dari Pondok Sumur. Jalan ke pos ini cukup rimbun dan kadang tertutup oleh semak belukar. Ketika sampai disini kita akan bisa melihat kalau pos ini memang sepertinya sering digunakan untuk ngecamp. Hal itu ga aneh, karena memang areanya yang luas.


Saat tiba di Pos Pondok Tonyok ini, kami menyempatkan diri untuk masak siang dan istirahat sebentar. Setelah dirasa siap,
kami pun melanjutkan perjalanan. Target kami untuk bermalam adalah di Pos Pondok Demit. Selepas Pondok Tonyok, medan tidak begitu kerap lagi yang tertutup semak belukar.


Umumnya untuk sampai di Pos Pondok Demit, kita membutuhkan waktu sekitar 2 jam melalui medan yang mulai sulit. Mungkin karena sudah berada pada ketinggian diatas 2000 mdpl, kadang kita mulai merasa cepat capek. Sebenarnya kesulitan medannya tidak jauh beda, malah bisa dikatakan lebih mudah, karena semak yang kita lewati tidak serimbun dan setinggi sebelumnya.


Pondok Demit - Pondok Mayit - < Lewat >

Setelah berjalan hampir 2 jam, akhirnya kami tiba di Pos Pondok Demit pada sore hari. Selama perjalanan dari Pondok Tonyok ke Pondok Demit ini, kita akan mendapati hutan cemara dan juga tumbuhan pakis. Saat memasuki kawasan cemara, saya terkagum-kagum dengan pohon-pohon cemara disana yang umumnya memiliki ukuran besar, menggambarkan usia yang telah tua dan juga tinggi.




Ketika ada di Pos Pondok Demit, kami sempat berdiskusi. Ya, kami selalu mendiskusikan perjalanan kami. Berbagi cerita tentang apa yang tadi kami jalani. Sebab meskipun kami berdua, ada kalanya kami tidak berjalan bersama. Terkadang kami terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Hanya suara Klonengan kerbau yang menggantung di tas bogaboo 100 nya Gopex serta panggilan dari Gopex atau pun saya untuk mengukur sejauh mana kami terpisah.


Hasil diskusi kami adalah, kami akan melanjutkan perjalanan untuk mengejar Pos Pondok Mayit. Pondok Mayit? ya Pos Pondok Mayit. Konon disana di sebelah kiri jalur ada makam. Sebaiknya kita jangan berfikir yang macam-macam dengan nama-nama pos juga cerita dibaliknya. Seperti halnya kami, hanya berniat untuk mendaki gunung Raung, menikmati keindahannya. Berjalan bersama kawan sekaligus melepaskan semua beban yang kami rengkuh di kota sana.


Lepas dari hal-hal yang katanya banyak terjadi keanehan di daerah itu, sebenarnya Pos Pondok Mayit ataupun Pondok Demit adalah tempat yang asyik buat kita bermalam / ngecamp. Sesuai hasil rapat, kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pondok Mayit. Perjalanan kami selepas Pondok Demit di iringi dengan mulai memasuki kawasan yang di tumbuhi edelwise, serta kabut yang mulai turun dari puncak Raung.



Tak terasa, kaki kami terus melangkah menyusuri jalan setapak serta pohon-pohon yang banyak tumbang melintang di atas jalur pendakian. Beban di pundak kami seolah tidak terasa, karena melihat sajian alam yang indah. Langit memerah di bagian barat, memberikan kami harapan, semoga malam dan esok hari akan cerah. Tidak lagi hujan seperti yang kami jalani sebelumnya.



Mungkin begitu asiknya dengan sajian di atas tak terasa kami telah melewati Pos Pondok Mayit. Ternyata tanda pos tersebut berada di pohon cemara yang tumbang tadi, sehingga kami pun tidak menyadari kalau sebenarnya kami telah melewati pos tujuan kami yaitu Pos Pondok Mayit. Saat itu kami mulai kehilangan cahaya, karena mentari telah mulai tenggelam di barat.


Makin gelap langkah kaki kami sepertinya makin bersemangat mencari lokasi yang cocok untuk bermalam / ngecamp. Suer.. sebenarnya jari-jari kaki kami mulai terasa mengeras. Begitu juga dengan napas kami,  saling berebut yang keluar masuk hidung kami.


Setelah hari benar-benar gelap, akhirnya kami mangkal di satu lokasi yang memiliki pemandangan cukup bagus. Dimana puncak Raung dapat dengan jelas terlihat. Saat itu udara mulai dingin. Angin di kawasan puncak terdengar jelas menderu dari tempat kami mendirikan tenda. Sepanjang malam hingga menjelang pagi, kami disajikan dengan nyanyian angin di kawasan puncak Raung itu.



Untuk menjaga hal yang  tidak diinginkan, yaitu kemungkinan turunnya hujan di malam hari, kamipun seperti biasa membuat saluran air di sekitar tenda yang telah kami dirikan. Segera setelah membongkat ke 3 tas bawaan kami, maka alat masak kami pun segera bekerja. Yang pertama kami kerjakan adalah memasak air untuk menghangatkan kami malam itu. Sambil menunggu air matang, tangan-tangan kami pun segera meracik sayuran serta bumbunya untuk makan malam kami.


Sekitar 1,5 jam berikutnya semuanya telah siap. Kamipun segera menyantap hidangan malam kami. Nikmat, itulah yang kami rasakan. Kami saling bertanya, dimanakah sebenarnya pos Pondok Mayit itu? Kenapa tidak juga kami sampai disana? ( hehe.. padahal secara gak sadar kami telah melewati dan meninggalkannya ) Saat itu kami berpikir, mungkin tidak lama lagi kami bisa sampai di Pos Pondok Mayit.


Hingga pagi tiba, setelah sarapan pagi serta minum hangat, tenda pun kami bereskan. Seperti biasa kami packing kembali barang-barang dan juga tenda. Tak begitu lama kemudian kami telah melangkahkan kembali kaki kami. Hari itu, kami melihat cuaca bersahabat yang memberikan kami rasa tenang. Akhirnya kami mendapatkan juga cuaca yang cerah.



Sepanjang jalur setelah tenda kami berdiri, hanya hutan cemara yang kami lalui. Diselingi sedikit belukar yang tidak serimbun hari-hari sebelumnya. Tanah yang kita pijak akan terasa gembur / empuk. Mungkin itu karena daun pohon cemara yang berjatuhan dan membusuk disana.  Saat pandangan diarahkan kekanan, diseberang jurang itu, mata kami dengan jelas melihat punggungan puncak Raung. Sementara di kirinya lembah yang tidak terlalu dalam. Kami terus manapakkan kaki kami melintasi medan yang sebagian bekas kebakaran. Masih terlihat dengan jelas bekas-bekasnya.



Berjalan entah berapa jam lamanya melewati padang rumput setinggi paha, serta dengan diiringi deru napas dan detak jantung, akhirnya kami menemukan satu pos lagi. Dan Membuat kami semakin senang sekaligus heran. Lah kok Pos.... mungkin itu yang ada di benak kami. Benar, sesaat memastikan apa yang di hadapi ini, kami saling tidak percaya dan berkata, "Wah Pondok Angin". Pondok angin Jo...

Pendakian Gunung Raung - 1 
Pendakian Gunung Raung - 2 




Posting Komentar

0 Komentar